Rabu, 09 Oktober 2013

KASUS SYIAH DI SAMPANG

Kronologis kasus kekerasan atas warga Syiah di Sampang, Madura. Pada sekitar pukul 6.30 WIB, sejumlah anak-anak warga syiah dengan didampingi orang tuanya akan pergi keluar desa dengan tujuan ke beberapa tempat. Di antara ada yang akan bersilaturahmi ke keluarga yang ada di luar Omben, dan beberapa yang lain akan berangkat ke luar kota untuk masuk sekolah dan pesantren mengingat libur lebaran sudah usai. Ketika rombongan anak-anak warga syiah dan orang tuanya, hendak menaikki dua buah mobil sewaan, puluhan lelaki dewasa dari warga non Syiah, dengan membawa senjata tajam mendatangi mereka dan melarang mereka meninggalkan desa. Bahkan mobil yang akan mereka tumpangi diancam akan dibakar dan mereka di paksa pulang ke rumah masing-masing. Mereka brusaha melawan. namun, akhirnya warga syiah kembali ke rumah mereka masing-masing Sekitar pukul 08.00 WIB, puluhan warga non syiah yang mengancam akan menyerang warga syiah. Dan tersiar kabar bahwa mereka akan menyerang dan membakar semua rumah warga syiah, bagi yang melawan akan dibunuh. Dan serangan akan dimulai dari rumah Ustad Tajul Muluk, yang saat itu ditempati oleh ibu, istri, dan 5 orang anak-anaknya. Pada sekitar pukul 9.30 WIB, sekitar 20-an orang lelaki dewasa dari warga syiah berkumpul di rumah Ust. Tajul bersiap untuk melindungi perempuan dan anak-anak yang tinggal di rumah itu dari serangan warga non syiah.
Pada sekitar pukul 10.30, warga non syiah bergerak mengepung rumah Ust. Tajul. Tidak berselang lama terjadilah perang mulut di antara mereka yang dilanjutkan dengan saling lempar batu. Saat kondisi sedang memanas, salah satu warga syiah, Moch Chosim (50), yang biasa dipanggil Pak Hamama berusaha menenangkan massa. Lelaki tua ini maju ke tengah-tengah massa non syiah yang akan menyerang mereka namun maksud baiknya justru memicu amarah massa. 
Massa semakin beringas. Ratusan massa beramai-ramai melempari rumah Tajul dengan batu. Semua orang yang berada dalam rumah itu terkena lemparan batu. Akhirnya keluarga Ust. Tajul dan warga syiah yang terkepung itu tidak lagi melawan dan membawa kerabat mereka yang luka-luka dan meninggal ke Gedung SD Karang Gayam yang berjarak beberapa ratus meter dari rumah itu. 
Beberapa perwakilan dari Warga Syiah telah melaporkan situasi ini ke beberapa petugas Polisi. Setelah massa non syiah membakar rumah yang didiami istri, ibu, dan anak-anak Ust., Tajul, sekitar pukul 11.30 WIB massa mulai bergerak membakar satu demi satu rumah warga syiah. Pada sekitar pukul 12.00 WIB, puluhan petugas polisi datang ke lokasi dan memberikan pertolongan kepada sejumlah warga syiah yang terluka. Akan tetapi jumlah polisi sangat tidak memadai untuk mencegah dan melarang massa melakukan pembakaran rumah-rumah warga syiah. 
Sampai dengan maghrib, sekitar pukul 18.00 WIB, jumlah rumah yang dibakar berjumlah setidaknya 60 unit bangunan milik warga syiah. Aparat kepolisian tidak berdaya mencegah hal ini terjadi. Pada sekitar setelah maghrib, yaitu pukul 18.30 WIB sejumlah warga syiah dievakuasi oleh pihak kepolisian di Gedung Olahraga Sampang. Sedang ratusan warga syiah yang lain berlari bersembunyi ke hutan dan persawahan yang berada di sekitar rumah mereka. Total data warga syiah yang dievakuasi ke Gor Sampang adalah 51 orang laki-laki dewasa dan 56 orang perempuan dewasa. 
Negara kita adalah negara kesatuan. Beberapa sebelumnya kita dengar masih ada ketegangan dan konflik yang terjadi. belum lama saudara dari Madura, ada sebuah konflik benturan intra agama, sesama umat Islam yang ada di Madura Kasus ini sangat memalukan dan membuat nama bangsa indonesia tercoreng. Padahal, selama ini warga Indonesia dikenal dengan perilakunya yang baik. Bahkan, di Madura khususnya Sampang, banyak warga Nahdlatul Ulama. NU mengajarkan prinsip-prinsip tasamuh dan tidak ada ajaran mengusir. Masalah pengusiran paksa warga Syiah ini menjadi citra yang buruk bagi warga di Indonesia terutama muslim. Terlebih lagi, jika sampai didengar sampai di luar negeri, tentunya akan menjadikan bangsa indonesia menjadi bangsa yang kurang toleransi terhadap perbedaan aliran. Tidak hanya itu kemungkinan juga negara-negara luar lainnya tidak akan membiarkan warga negaraya pergi ke indonesia, mereka takut akan terjadi hal yang sama terhadap warga negara mereka, dan itu membuat kas negara menjadi berkurang.

0 komentar:

Posting Komentar